Tampilkan postingan dengan label makna kata dajjal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna kata dajjal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Januari 2008

Dajjal disebutkan berulang-ulang dalam Hadits, sedangkan Ya'juj wa-Ma'juj bukan saja disebutkan dalam Hadits, melainkan pula dalam Al-Qur'an. Dan kemunculannya yang kedua kalinya ini dihubungkan dengan turunnya Al-Masih.
Kata Dajjal berasal dari kata dajala, artinya, menutupi (sesuatu). Kamus Lisanul-'Arab mengemukakan beberapa pendapat mengapa disebut Dajjal. Menurut suatu pendapat, ia disebut Dajjal karena ia adalah pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan. Pendapat lainnya mengatakan, karena ia menutupi bumi dengan bilangannya yang besar. Pendapat ketiga mengatakan, karena ia menutupi manusia dengan kekafiran. Keempat, karena ia tersebar dan menutupi seluruh muka bumi.
Pendapat lain mengatakan, bahwa Dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang dagangannya ke seluruh dunia, artinya, menutupi dunia dengan barang dagangannya. Ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa ia dijuluki Dajjal karena mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan hatinya, artinya, ia menutupi maksud yang sebenarnya dengan kata-kata palsu.
Kata Ya'juj dan Ma juj berasal dari kata ajja atau ajij dalam wazan Yaf'ul; kata ajij artinya nyala api. Tetapi kata ajja berarti pula asra'a, maknanya berjalan cepat. Itulah makna yang tertera dalam kamus Lisanul-'Arab. Ya'juj wa-Ma'juj dapat pula diibaratkan sebagai api menyala dan air bergelombang, karena hebatnya gerakan.

Makna Kata Nafs dalam Al-Qur’ân

ABSTRAK
Darojat: Kata nafs dalam al-Qur’ân dapat bermakna “ruh” (dzat al-insân), “hati“ (dhamîr al-insân/qalb) atau“jiwa” (ashl al-basyar), dan banyak lagi makna-makna lain selain dari makna tersebut di atas. Pentingnya kajian kata nafs dalam al-Qur’ân dapat dilihat dari banyaknya kata ini digunakan dan tersebar hampir di seluruh surat dalam al-Qur’ân. Kata nafs dalam al-Qur’ân berjumlah sekitar 243 baik yang berbaris rafa’, nashab, dan jarr dari yang berbentuk tunggal (mufrad), dan banyak (jama’). Kata nafs dalam al-Qur’ân yang demikian banyak seperti itu, pasti banyak digunakan dalam arti, makna dan konteksnya yang berbeda-beda. Dengan kata lain, kata nafs itu banyak memiliki arti yang berbeda. Perbedaan arti ini mungkin dalam penafsiran umum hanya melihat pada konteks kalimatnya saja.
Tujuan penelitian ini adalah; 1) untuk mengetahui makana morfologis kata nafs dalam al-Qur’ân; 2) untuk mengetahui makna kontekstual kata nafs dalam al-Qur’ân.
Penelitian ini bertolak dari teori yang mengatakan bahwa makna bahasa sangat dipengaruhi oleh konteksnya, seperti konteks Mu’jami’ (leksikal), gramatikal, linguistik, budaya, sejarah, dan konteks emosi. Oleh karena itu suatu kata akan mengalami perubahan makna sesuai dengan konteksnya. Ilmu yang membahas makna bahasa adalah semantik (Ilm Dilâlah). Dengan pendekatan ini diharapkan dapat mengungkap makna kata nafs yang banyak itu, menghantarkan pada penemuan pemahaman, dan pengertian yang berbeda berdasarkan konteksnya. Disinilah letak pentingnya analisis semantik yang dijadikan “pisau analisis” untuk mencari inti pemahaman dan pengertian dari keseluruhan makna kata nafs yang terdapat dalam al-Qur’ân.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dengan metode ini, penulis menganalisis dan mendeskripsikan kata nafs dalam al-Qur’ân. Sehingga, metode ini dapat dikatakan juga sebagai metode analisis isi teks (content analysis). Selain metode di atas, penelitian ini menggunakan metode tafsiri (explanatory) yaitu metode menafsirkan bahasa al-Qur’ân dengan menjelaskan lafadl yang sukar dipahami secara pendekatan semantik dengan uraian yang menjelaskan bahasa al-Qur’ân dalam tataran pragmatiknya.
Hasil penelitian tentang kata nafs dalam al-Qur’ân adalah sebagai berikut:
1. Makna kata nafs secara morfologis dalam al-Qur’ân mencakup makna dalam bentuk kata benda (ism) dan bentuk kata kerja (fi’l); (a) Kata nafs adalah bentuk mashdar dan merupakan jenis kata yang memiliki banyak makna (musytarak lafdli). Kata nafs diderivasi dari kata: Nafusa yanfusu nafs: indah; berharga, nafisa-yanfisu-nafs: kikir, melahirkan; mata, jahat, jasad, darah, tubuh, semangat, hasrat, kehendak, pendapat, kemuliaan, hawa, hisapan, tegukan, model (uslub), sabar, lapang dada, waktu yang lama, mufakat, orang, ruh, akal, zat, esensi; nyawa, diri atau seseorang, niat, kehendak; meninggal; proses/ bagaimana keluarnya sesuatu yang lembut, seperti; angin; ruh, dan darah, melahirkan; udara yang masuk dan keluar dari badan; metode/ atau teknik dalam bekerja; manusia; kesombongan; kekuasaan (al-‘izzah), hasrat (al-himmah), dan keinginan (al-irâdah); penggerak badan. Nafs juga bermakna kamâl awwal dan ‘ali; Kata nafs mengalami perubahan bentuk yaitu: al-mutanâfisûn. Kata jadian ini terdapat dalam surat al-Muthaffifîn ayat 26; artinya “orang yang menyukai; dan (b) makna kata nafs dalam bentuk kata kerja (Fi’l). Kata nafs dalam bentuk kata kerja hanya disebutkan dua kali. Satu dalam bentuk fi’l mâdhi, dan yang satunya lagi dalam bentuk fi’l mudhâri. Kedua kata nafs tersebut sudah mengalami perubahan pola (wazan) atau telah mengalami proses afiksasi; yaitu: tanaffasa (تنفس) dan yatanâfasu ((يتنافس. Dalam bentuk tanaffasa, artinya; benafas, menarik nafas, dan memanjakan diri. Tanaffasa padanannya, yaitu; syariba; minum, terbit, dan menyinari.يتنافس , artinya adalah (رغب في); menyukai.
2. Makna sintaksis kata nafs dalam al-Qur’ân adalah: (a) kata nafs dalam bentuk tunggal 142 kata, 77 kata tanpa diidhâfatkan dengan kata lain dan 65 di-idhâfat-kan; (b) kata nafs dalam bentuk jamak disebutkan 160 kali, dua kata dalam bentuk ( نفوس ), yaitu dalam surat al-Takwîr ayat 7 dan surat al-Isrâ ayat 25, dan 158 kata dalam bentuk atau wazan ) (أنفس; (c) kata nafs dalam bentuk umum (nakirah) sebanyak 20 kali; (d) kata nafs dalam bentuk khusus (ma’rifah) 225 dengan kategori khusus dengan alif-lam, idhâfah dengan kata ganti orang ke dua (نفسكَ), ketiga (نفسه), ketiga (نفسها), kedu jamak (أنفسكم), (أنفسهن), dan kata ganti orang pertama tunggal (نفسي) dan jamak (أنفسنا); )e) kata nafs khusus dengan disifati oleh kata wâhidah dan muthma’innah; (f) kata nafs dalam bentuk gender ada yang mengacu kepada mudzakkar sebanyak 9 kata dan mu’annats 234 kata.
3. Makna kontekstual kata nafs dalam al-Qur’ân mencakup; (a) konteks sejarah, maknanya adalah perintah Allah kepada Rasul untuk berperang dalam surat al-Nisâ ayat 84, (b) konteks budaya (tsaqâfi), maknanya adalah angin, sesuatu yang istimewa dalam surat al-Mâidah ayat 32, (c) konteks linguistik bermakna; ruh, akal, sisi dalam dan sisi luar manusia, siksa atau azab, jiwa, suatu bangsa; Âdam; hawa nafsu, kemadaratan bagi totalitas manusia dari sisi luar dan dari sisi dalamnya, Mûsâ, seseorang sebagai individu dan keturunannya sekaligus sebagai anggota masyarakat, dan bermakna Dzat Allah.

HIKMAH ISRA DAN MI’RAJ

Oleh : Darojat Marjuki

Disampaikan pada Khuthbah Jum’at tanggal, 27 Juli 2007 di Masjid Nurul islam Jln Cilengkrang II RW. 07/08 Manglayang bawah Kel. Palasari Cibiru
Hadirin Jama’ah Jum’at! Kita sudah memasuki tanggal 12 bulan Rajab, lalu kita akan melewati sebuah peristiwa sejarah yang sangat monumental. Momentum sejarah tersebut adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq,malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.
Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW
Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al Qur'an sebagai berikut:
"Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". (QS. Bani Israil : 90 - 93)
Hadirin ! Yang dapat kita fahami dari ayat di atas, mereka meminta beberapa hal-hal kepada Rasulullah antara lain:
1. Mereka meminta untuk memancarkan mata air dari bumi.
2. Mereka juga meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya. Padahal di sekitar situ sebagian besar padang pasir.
3. Mereka meminta untuk menjatuhkan langit.
4. Mereka juga meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikatnya untuk dihadapkan kepada mereka. Sungguh suatu permintaan yang lancang.
5. Mereka juga meminta sebuah rumah dari emas.
6. Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk naik ke langit tanpa membawa buku, lalu harus kembali dengan membawa sebuah buku (kitab) untuk mereka baca.
Permintaan mereka itu betul-betul "kebangetan". Tetapi Rasulullah SAW menjawabnya dengan bijaksana, "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul, sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.
Kita bisa ambil pelajaran dari dari hal di atas. Mungkin sampai zaman kapan pun, kebenaran (baca: Islam) akan menghadapi hal-hal seperti itu. Orang yang membawa kebenaran akan selalu menghadapi permintaan-permintaan yang diluar kemampuan. Dan permintaan tersebut kebanyakan hanya sebagai "olok-olok". Karena, kalaupun kita bisa memenuhi permintaan itu, mereka kebanyakan tetap tidak akan mendengar Islam ini. Hanya sedikit yang mau mendengarnya. Sebagaimana halnya Rasulullah setelah mengalami peristiwa Isra' Mi'raj, tidak banyak yang mempercayai perjalanannya tersebut, bahkan ada yang mengatakan Nabi gila walaupun Nabi sudah memberikan bukti-bukti atas apa yang telah dia alami (Isra' Mi'raj).
Peringatan Isra' Mi'raj sebagai motivasi
Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah), sebelum peristiwa itu terjadi, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, yang setia menemani dan menghiburnya dikala orang lain masih mencemoohnya. Lalu beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib, yang (walaupun kafir) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.
Dalam keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah "menghibur" Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menemui Allah. Hingga kini, peristiwa ini seringkali diperingati oleh sebagian besar kaum muslimin dalam peringatan Isra' Mi'raj. Pada dasarnya peringatan tersebut hanyalah untuk memotivasi dan penyemangat, bukan dalam rangka beribadah (ibadah dalam artian ibadah ritual khusus). Namun peringatan tersebut juga terdapat beberapa catatan. Apa saja itu? Mari kita ikuti beberapa hal di bawah ini.
Dalam Al Qur'an, dari sekian ribu ayat di dalamnya, hanya ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra' Mi'raj, yaitu QS. Bani Israil ayat 1, dan QS. An Najm ayat 13 sampai 15. Maksudnya, kebesaran Islam itu bukan terletak pada peristiwa Isra' Mi'raj ini, tapi pada konsepnya, sistemnya, muatannya, dan sebagainya. Pada surat An Najm ayat 13-15 itu, menggambarkan bahwa Rasulullah menemui Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha ketika Isra Mi'raj. Sebelumnya Rasulullah juga pernah menjumpai malaikat jibril dalam bentuk asli ketika menerima ayat pertama (QS. Al Alaq: 1-5) dari Allah SWT, yaitu ketika di gua Hira.
Dan di antara 25 nabi, hanya 2 Nabi yang yang pernah berbicara langsung kepada Allah, yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan Nabi Adam, bukankah beliau juga pernah berdialog dengan Allah? Ya, tapi Nabi Adam ketika itu masih di Surga. Setelah diturunkan ke bumi, tidak lagi berdialog secara langsung. Nabi Musa berdialog dengan Allah secara langsung yaitu ketika di bukit Tursina (di bumi), sedangkan Nabi Muhammad di Sidratil Muntaha (di langit). Tetapi (sekali lagi), kebesaran Islam bukan di situ letaknya, namun di konsepnya, di muatannya. Oleh karena itulah, peristiwa Isra' Mi'raj sendiri tidak perlu secara berlebihan diangkat-angkat. Peristiwa itu sendiri merupakan mukjizat imani, maksudnya adalah mukjizat yang hanya bisa diterima apabila kita beriman.
Meskipun hanya Nabi Muhammad yang telah diperjalankan pada malam harinya (Isra' Mi'raj), tapi dia tetaplah manusia biasa, hamba Allah. Hal ini perlu ditegaskan, karena dua umat sebelum Islam (Yahudi dan Kristen), telah terjebak men-Tuhankan nabinya.
Mengapa Masjidil Aqsa?
Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra' Mi'raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain:
1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berda'wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berda'wah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan "golongan" Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.
2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai "pembangkit" ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin "melemah" karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.
3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur'an surat An Najm ayat 12, terdapat kata "Yaro" dalam bahasa Arab yang artinya "menyaksikan langsung". Berbeda dengan kata "Syahida", yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu da'wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da'i, bahwa dalam kesulitan da'wah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.
Perintah Shalat
Pada Isra' Mi'raj, Allah memberikan perintah sholat wajib. Dan sholat Subuh adalah sholat yang pertama kali diperintahkan. Karena peristiwa Isra' Mi'raj sendiri terjadi pada saat malam hari. Subuhnya Rasulullah sudah tiba kembali di tempat semula. Mungkin ini juga hikmah bagi kita semua, karena sholat Subuh adalah sholat yang sulit untuk di laksanakan, di mana pada saat itu banyak manusia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum diperintahkannya sholat wajib 5 waktu ini, Rasulullah melaksanakan sholat sebagaimana Nabi Ibrahim.
Kita tidak hanya diperintahkan untuk mengerjakan sholat, tetapi juga menegakkan sholat. Sholat bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari sholat, demikian kata seorang ustadz. Demikianlah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra' Mi'raj. Semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah, kitab-Nya, Nabi-nabi-Nya, para malaikat-Nya, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar-Nya
Assalamu'alaikum
Perkenalkan saya "Darojat", ingin berbagi ilmu dengan Anda melalui blog ini.